Malam itu, Minggu (10/12/2017) nyaris pukul 9, aku menumpangi bis cepat Sugeng Rahayu (kalau nggak salah ingat) dari Jogja ke Solo setelah mengakhiri perjalananku bersama Ismie, Ucup, dan Bagus seharian. Aku sempat kebingungan sesampainya di dalam bis, sebab semua bangku sudah terisi satu-satu. Tak ada yang benar-benar kosong, aku harus memilih salah satu pria untuk menjadi teman dudukku, dan itu artinya aku tak bisa menempel di jendela agar lebih leluasa melihat pemandangan. Setelah berpikir sebentar, aku akhirnya duduk di sebelah pria bertopi yang tertidur pulas. Di seberangnya, ada dua mbak-mbak berjilbab yang usianya mungkin masih sepantaran denganku. Belum juga benar-benar duduk, tiba-tiba ada seorang pria di bangku belakang (tepatnya di belakang mbak-mbak tadi) yang bertanya padaku. "Mbak, mau ke mana?" tanyanya. "Mau ke Solo," jawabku singkat. "Emang Solo mana?" tanyanya lagi. Aku sedikit curiga dengan pria ini, sebab keponya keterl...
"Minggu lalu di kelasku pak dosen meminta kami untuk menggambar sesuatu yang menggambarkan kondisi hati saat ini," ujar salah satu gadis berkerudung merah jambu membuka pembicaraan dengan bersemangat sambil mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalam tasnya. Dua gadis lain menatapnya dengan seksama. "Lalu apa yang kamu gambar?" tanya gadis berkerudung biru yang duduk tepat di hadapannya. "Kotak! Kotak kosong yang tak berisi," digoreskannya pensil di permukaan kertas dan terbentuklah sebuah kotak terbuka tanpa apa-apa di dalamnya. Meski tak seimbang, cukuplah gambar itu disebut sebuah kotak. "Seperti inilah hatiku saat ini, kosong tak berisi. Kalau kamu? Coba gambarkan isi hatimu," ujarnya enteng sambil menyodorkan buku ke gadis berkerudung biru. "Hatiku sekarang seperti ini," jawabnya sambil menggambar sebuah hati yang terikat tali dan di ujungnya tersambung dengan sebuah balon. "Hatiku saat ini sedang terbang bersama balon, ...