Senin, 11 Desember 2017

Malu Bertanya, Sesat di Jalan. Banyak Tanya, Dikira Gila!

Diposting oleh Atikah Winahyu di 10:38 PM 0 komentar

Malam itu, Minggu (10/12/2017) nyaris pukul 9, aku menumpangi bis cepat Sugeng Rahayu (kalau nggak salah ingat) dari Jogja ke Solo setelah mengakhiri perjalananku bersama Ismie, Ucup, dan Bagus seharian.

Aku sempat kebingungan sesampainya di dalam bis, sebab semua bangku sudah terisi satu-satu.

Tak ada yang benar-benar kosong, aku harus memilih salah satu pria untuk menjadi teman dudukku, dan itu artinya aku tak bisa menempel di jendela agar lebih leluasa melihat pemandangan.

Setelah berpikir sebentar, aku akhirnya duduk di sebelah pria bertopi yang tertidur pulas. Di seberangnya, ada dua mbak-mbak berjilbab yang usianya mungkin masih sepantaran denganku.

Belum juga benar-benar duduk, tiba-tiba ada seorang pria di bangku belakang (tepatnya di belakang mbak-mbak tadi) yang bertanya padaku.

"Mbak, mau ke mana?" tanyanya.
"Mau ke Solo," jawabku singkat.
"Emang Solo mana?" tanyanya lagi.

Aku sedikit curiga dengan pria ini, sebab keponya keterlaluan. Alhasil, aku hanya menjawabnya singkat, "Manahan" dengan ekspresi wajah kurang senang. Mbak-mbak berjilbab di seberangku hanya bisa tertawa.

Tak lama kemudian, Pak kondektur menghampiriku untuk meminta uang karcis.

"Turun mana mbak?" tanyanya.
"Pom bensin Manahan, bisa Pak?" ujarku.
"Bisa mbak, lima belas ribu," ucap Pak Kondektur.

Saat Pak kondektur masih sibuk menyobekkan karcisku, tiba-tiba pria di belakang yang tadi sempat bertanya padaku, kini melontarkan pertanyaannya pada Pak Kondektur.

"Pak, ini bisnya ke Surabaya kapan?" tanyanya. Aku tak berani menoleh ke arah pria itu.
"Ya, langsung berangkat." jawab Pak Kondektur singkat.
"Berangkatnya jam berapa Pak?" tanyanya lagi.
"Ya nanti langsung berangkat ke Surabaya (setelah mampir sebentar di Solo)" jawab Pak Kondektur kali ini dengan nada agak meninggi (mungkin karena sebal ditanya terus).
"Sampai di Surabaya jam berapa Pak?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
"Jam 5" jawab Pak Kondektur. Mungkin kalau aku yang jadi Pak Kondektur, pria itu sudah kuacuhkan.
"Jam 5 pagi? Nama terminal Surabaya apa sih Pak?" lagi-lagi ia meneruskan pertanyaannya.
"Bungurasih, kenapa? Panjenengan mau ke sana?" tanya Pak Kondektur dengan sedikit penekanan di bagian belakang.
"Enggak, Pak" jawab pria tadi dengan datar.

Mbak-mbak berjilbab di seberangku menahan tawanya yang nyaris meledak. Aku pun ikut tertawa dengan ekspresi heran dengan melihat ke arah mbak-mbak berjilbab itu. Sambil menatapku, mbak-mbak berjilbab itu pun bilang, "orangnya gila," kemudian melukis garis miring di jidatnya dengan jari telunjuk.

Tiba-tiba setelah itu, mbak tersebut kembali terbahak. Rupanya ia melihat mas-mas di sebelahku yang dari tadi tertidur, ikut tertawa mendengar perbincangan Pak Kondektur dengan pria belakang.

Malam itu, aku tidak bisa tertidur di bis gara-gara pria di belakang yang katanya 'gila'. Padahal, rasa kantukku sudah di ujung mata.

Sesaat sebelum turun, pria belakang kembali memanggilku.

"Mbak turun?" tanyanya.
"Ntar" jawabku singkat sembari membuang muka dengan perasaan antara sebal dan takut.

Tak lama kemudian, aku beranjak ke bangku sebelah sopir, karena sebentar lagi waktunya untuk turun.

Setelah kejadian malam itu, akhirnya aku menyimpulkan bahwa terlalu banyak bertanya bisa membuat orang lain merasa sebal. Bukannya dianggap ramah atau aktif (seperti murid di kelas yang banyak bertanya pasti disukai guru), kamu malah bisa-bisa dikira gila.

Singkatnya, malu bertanya sesat di jalan. Banyak tanya, dikira gila!

Sabtu, 14 Mei 2016

Sebuah Percakapan Singkat Tentang Hati

Diposting oleh Atikah Winahyu di 8:09 PM 0 komentar


"Minggu lalu di kelasku pak dosen meminta kami untuk menggambar sesuatu yang menggambarkan kondisi hati saat ini," ujar salah satu gadis berkerudung merah jambu membuka pembicaraan dengan bersemangat sambil mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalam tasnya. Dua gadis lain menatapnya dengan seksama.

"Lalu apa yang kamu gambar?" tanya gadis berkerudung biru yang duduk tepat di hadapannya.

"Kotak! Kotak kosong yang tak berisi," digoreskannya pensil di permukaan kertas dan terbentuklah sebuah kotak terbuka tanpa apa-apa di dalamnya. Meski tak seimbang, cukuplah gambar itu disebut sebuah kotak.
"Seperti inilah hatiku saat ini, kosong tak berisi. Kalau kamu? Coba gambarkan isi hatimu," ujarnya enteng sambil menyodorkan buku ke gadis berkerudung biru/

"Hatiku sekarang seperti ini," jawabnya sambil menggambar sebuah hati yang terikat tali dan di ujungnya tersambung dengan sebuah balon.
"Hatiku saat ini sedang terbang bersama balon, bebas kemana saja tak tentu arah," lanjutnya lagi, sebuah senyum tipis tergambar di bibirnya.

"Tapi nanti kan balonnya bisa meletus," celetuk gadis berambut panjang yang sedari tadi hanya diam.

"Ya, tentu! Suatu saat balonnya akan meletus dan hatiku akan jatuh pada seseorang yang tepat. Jodohku!" ketiganya kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menyeruput segelas green tea dan pesanan yang tak kunjung datang.

Luka Lama

Diposting oleh Atikah Winahyu di 6:00 PM 0 komentar


Luka lama
Biar saja lukanya menganga
Sebentar lagi juga sembuh
Mungkin satu purnama
Dua purnama atau puluhan purnama
Atau bisa jadi sampai ribuan purnama
Aku tak peduli
Pasti akan sembuh
Dibasuh hujan, ditiup angin, dibelai hangat mentari
Aku tak peduli

Sabtu, 26 Maret 2016

Berteduh sambil Nostalgia Sejenak di Toko Oen Malang

Diposting oleh Atikah Winahyu di 2:40 PM 0 komentar



Tanggal 4 Maret 2016 kemarin saya dan Mas Fuad berkeliling di Alun-alun Kota Malang untuk mencari bahan artikel di trevelsia.com. Kami akhirnya bertemu sekitar jam 10 setelah ngaret satu jam dari perjanjian awal. Biar cepat selesai, kami pun membagi wilayah peburuan menjadi dua bagian. Saya hunting foto dan bahan di bagian Selatan taman sedangkan Mas Fuad di bagian Utara.

Setelah bahan yang terkumpul sudah dirasa cukup untuk bahan artikel baru, kami berdua bertemu kembali di titik tengah taman. Cuaca yang awalnya panas tiba-tiba mendung setelah kami selesai berburu foto dari berbagai sudut. Berhubung hari itu adalah hari Jum'at, Mas Fuad terpaksa meninggalkan saya sendirian untuk Jum'atan. Kami pun berpisah pukul 11.30.

Nggak lama setelah Mas Fuad berlalu, saya juga memutuskan untuk meninggalkan Alun-Alun Kota Malang menuju kawasan Tugu. Tapi tak disangka tak dinyana, hujan seketika turun dengan derasnya bahkan sebelum saya sampai di parkiran motor. Alhasil langsung berpikir keras untuk nyari tempat berteduh yang pas.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan berteduh sambil nyicipin menu es krim yang konon katanya cukup legendaris di Kota Malang. Lumayan lah berteduh sambil makan dan nyambi liputan. Karena saat itu hujan lagi deras-derasnya dan petir menyambar-nyambar (ini seriusan deh nggak bohong) pengunjung di dalam Toko Oen nggak terlalu banyak alias sepi.

Ini bukan kali pertamanya saya masuk ke toko ini karena dulu mama dan papa sempat mengajak saya kemari. Tapi walaupun bukan yang pertama, saya tetap dibikin 'nganga' saat masuk ke dalam toko. Suana klasik, kuno, tenang, penuh kenangan seketika menyeruak memberi kesan spesial plus backsound lagu Westlife jadul yang sedang diputar saat itu cukup membuat saya merasa kembali ke masa lalu. Aroma penjajahan ulang ((AROMA PENJAJAHAN)) seketika mencolek bulu hidung sejak saya menginjakkan kaki di pintu masuk toko.


Setelah memilih tempat duduk di salah satu sudut toko, pelayan langsung mengantar menunya ke arah saya. Lagi-lagi saya berhasil dibuat 'nganga' dengan harga yang tertera di dalam buku menu. Disini es krim dibanderol dengan harga Rp 39.000,- per porsi yang isinya dua scoop es krim hominahominahomina!


Setelah beberapa saat kebingungan milih es krim, akhirnya pilihan saya jatuh pada Tropicana Cream yang terdiri dari dua scoop es krim vanila dan potongan buah di bawahnya. Untungnya saya berpegang teguh pada prinsip "udah nggak apa-apa, sekali-kali aja" akhirnya rasa galau terbang begitu saja menyatu dengan alam. Saya nggak berani pesan makanan berat karena ternyata ada menu yang mengandung babi (ngeles, padahal aslinya takut kantong jebol. PRET!).

Sambil menunggu pesanan datang, saya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Desain interiornya yang benar-benar klasik bikin saya betah duduk berlama-lama disini walaupun sendiri sekali lagi ((SEN-DI-RI)). Suasana tenangnya cocok banget buat nongkrong sambil baca buku. Kehadiran beberapa mas-mas bule yang lagi asyik menyantap makan siangnya menambah beningnya pemandangan di dalam ruangan ahahay!

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya segelas Tropicana Cream pesanan saya datang! Cekrek dulu ya sebelum dihancurkan say cheeeessseee!


Setelah dicoba, rasa es krimnya memang beda dari yang lain. Lembut ringan adem cenderung gampang meleleh. Rasanya juga nggak kemanisan. Cuma sayangnya potogan buah yang ada di bawah es krim berasal dari buah kalengan, jadi kurang segar.

Saya menikmati sendok demi sendok, suapan demi suapan es krim yang ada di hadapan saya. Sepertinya saya ingin berkunjung lagi kemari untuk mencoba menu es krim lainnya sambil membaca buku dan cuci mata! Siapa tau dapet kenalan bule ganteng yakanyakanyakan??

Cukup lama saya duduk di tempat ini sambil menerka-nerka, membayangkan banyak hal, memikirkan ini dan itu hingga akhirnya hujan reda, es krim lenyap, dan mas-mas bule beranjak dari tempat duduknya. Hal ini menandakan sudah waktunya pula saya beranjak dari tempat ini sebelum saya lapar mata dan merogoh kocek lebih dalam lagi.

Setelah membayar pesanan di kasir, saya sempatkan berkeliling ke setiap sudut ruangan dan mengambil gambarnya. Setelah sukses mendapatkan beberapa foto, dengan berat hati saya melangkahkan kaki menuju pintu keluar Toko Oen. Good bye, see you next time! Doain ya dapet rejeki nomplok buat leha-leha sambil makan es krim lagi disini.

Buat kamu, kamu dan kamu yang penasaran dan tertarik untuk mampir ke Toko Oen Malang, bisa coba simak dulu ulasan singkat mengenai Toko Oen Malang di sini. Selamat mencoba!

Minggu, 21 Februari 2016

#tikabebikinan : Double Chocolate Chip Blend on Lazy Sunday

Diposting oleh Atikah Winahyu di 2:41 PM 0 komentar
Wohoo, finally it's Sunday (not Sunny Day)! Hari Minggu begini semua anggota keluarga biasanya kumpul di rumah meski cuma sekedar leyeh-leyeh di depan TV tapi rasanya garing deh kalo nggak ada sesuatu yang bisa dimasukin ke mulut (cemilan atau minuman gitu maksudnya). Setelah obrak-abrik dapur selama beberapa menit, foila! Akhirnya menemukan beberapa bahan yang bisa dicampur dan dipake buat bebikinan sesuatu. Berhubung hari ini nggak dingin-dingin amat, jadilah bikin percobaan berbentuk minuman cokelat yang ku-be-ri-na-ma Double Chocolate Chip Blend. Bahan dan cara bikinnya nggak sulit kok.


Bahan :
3 sdm cokelat bubuk, aku pake merk windmolen (kata mama sih cokelat merk ini lumayan enak)
1 sachet susu kental manis, larutkan dalam segelas air (airnya nggak usah banyak-banyak biar susunya kerasa)
Choco chips
Es batu
Cokelat block diserut (jangan dimasukin utuh-utuh --")
Gula beberapa sendok (maaf gulanya belum sempet dimake-up jadi nggak ikutan foto)

Cara bebikinan :
Masukkan semua bahan ke dalam blender (sisain sedikit choco chips sama cokelat serutnya buat taburan). Campur sampai es batunya halus dan semua bahan menyatu jadi satu (kayak hatiku dan hatimu #eaaaa). Kalo udah selesai, tuang ke dalam gelas. Tabur pake coklat serut dan choco chips nya. Dan TA-Da ini dia hasil kerja keras selama beberapa menit mengguncang blender di dapur.



Karena ini bebikinannya pake gaya freestyle jadi kamu bisa takar bahan-bahannya sesukamu. Kalo kurang creamy ya tambah susunya. Kalo kurang manis ya ditambah gula. Selamat mencoba! Semoga beruntung :)

*nb : jangan diminum saat sedang hujan lebat dan petir menyambar karena bisa menyebabkan hipotermia terutama bagi kamu yang masih jomblo dan butuh kehangatan!

Rabu, 03 Februari 2016

Pria Bahu Lebar

Diposting oleh Atikah Winahyu di 10:04 PM 0 komentar



Hey kamu!
Iya kamu, pria berbahu lebar!
Bolehkah pinjam bahumu sebentar?
Tak lama, sepuluh menit saja
Atau jika tak suka, beri aku semenit saja
Pinjamkan agar aku bisa bersandar
Mungkin si bahu lebar bisa tenangkan hati yang getar
Atau malah buat jantung berdebar

Wahai bahu lebar, pemilik jiwa tegar
Pinjamkan bahumu sebentar
Ku butuh tempat bersandar
Sembuhkan hati yang nanar
Jadikan dia berbinar


dari yang sedang berdebar karena si bahu lebar
Malang, 03 Februari 2016

Jumat, 29 Januari 2016

Enyah!

Diposting oleh Atikah Winahyu di 5:02 PM 0 komentar





Pergi saja
Enyah, enyahlah!
Hilang dengan sempurna dalam gulita
Tenggelam bersama temaram
Hapus kepingan memoar hingga tak tersisa
Aku akan menoleh sesekali
Bukan untuk kembali
Tapi agar sadari
Kau tak pantas dinanti


Bersama secangkir cokelat hangat di pagi hari
Malang, 29 Januari 2016

 

Tika's Footprints Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea