Langsung ke konten utama

Malu Bertanya, Sesat di Jalan, Banyak Tanya, Dikira Gila!


Malam itu, Minggu (10/12/2017) nyaris pukul 9, aku menumpangi bis cepat Sugeng Rahayu (kalau nggak salah ingat) dari Jogja ke Solo setelah mengakhiri perjalananku bersama Ismie, Ucup, dan Bagus seharian.

Aku sempat kebingungan sesampainya di dalam bis, sebab semua bangku sudah terisi satu-satu.

Tak ada yang benar-benar kosong, aku harus memilih salah satu pria untuk menjadi teman dudukku, dan itu artinya aku tak bisa menempel di jendela agar lebih leluasa melihat pemandangan.

Setelah berpikir sebentar, aku akhirnya duduk di sebelah pria bertopi yang tertidur pulas. Di seberangnya, ada dua mbak-mbak berjilbab yang usianya mungkin masih sepantaran denganku.

Belum juga benar-benar duduk, tiba-tiba ada seorang pria di bangku belakang (tepatnya di belakang mbak-mbak tadi) yang bertanya padaku.

"Mbak, mau ke mana?" tanyanya.
"Mau ke Solo," jawabku singkat.
"Emang Solo mana?" tanyanya lagi.

Aku sedikit curiga dengan pria ini, sebab keponya keterlaluan. Alhasil, aku hanya menjawabnya singkat, "Manahan" dengan ekspresi wajah kurang senang. Mbak-mbak berjilbab di seberangku hanya bisa tertawa.

Tak lama kemudian, Pak kondektur menghampiriku untuk meminta uang karcis.

"Turun mana mbak?" tanyanya.
"Pom bensin Manahan, bisa Pak?" ujarku.
"Bisa mbak, lima belas ribu," ucap Pak Kondektur.

Saat Pak kondektur masih sibuk menyobekkan karcisku, tiba-tiba pria di belakang yang tadi sempat bertanya padaku, kini melontarkan pertanyaannya pada Pak Kondektur.

"Pak, ini bisnya ke Surabaya kapan?" tanyanya. Aku tak berani menoleh ke arah pria itu.
"Ya, langsung berangkat." jawab Pak Kondektur singkat.
"Berangkatnya jam berapa Pak?" tanyanya lagi.
"Ya nanti langsung berangkat ke Surabaya (setelah mampir sebentar di Solo)" jawab Pak Kondektur kali ini dengan nada agak meninggi (mungkin karena sebal ditanya terus).
"Sampai di Surabaya jam berapa Pak?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
"Jam 5" jawab Pak Kondektur. Mungkin kalau aku yang jadi Pak Kondektur, pria itu sudah kuacuhkan.
"Jam 5 pagi? Nama terminal Surabaya apa sih Pak?" lagi-lagi ia meneruskan pertanyaannya.
"Bungurasih, kenapa? Panjenengan mau ke sana?" tanya Pak Kondektur dengan sedikit penekanan di bagian belakang.
"Enggak, Pak" jawab pria tadi dengan datar.

Mbak-mbak berjilbab di seberangku menahan tawanya yang nyaris meledak. Aku pun ikut tertawa dengan ekspresi heran dengan melihat ke arah mbak-mbak berjilbab itu. Sambil menatapku, mbak-mbak berjilbab itu pun bilang, "orangnya gila," kemudian melukis garis miring di jidatnya dengan jari telunjuk.

Tiba-tiba setelah itu, mbak tersebut kembali terbahak. Rupanya ia melihat mas-mas di sebelahku yang dari tadi tertidur, ikut tertawa mendengar perbincangan Pak Kondektur dengan pria belakang.

Malam itu, aku tidak bisa tertidur di bis gara-gara pria di belakang yang katanya 'gila'. Padahal, rasa kantukku sudah di ujung mata.

Sesaat sebelum turun, pria belakang kembali memanggilku.

"Mbak turun?" tanyanya.
"Ntar" jawabku singkat sembari membuang muka dengan perasaan antara sebal dan takut.

Tak lama kemudian, aku beranjak ke bangku sebelah sopir, karena sebentar lagi waktunya untuk turun.

Setelah kejadian malam itu, akhirnya aku menyimpulkan bahwa terlalu banyak bertanya bisa membuat orang lain merasa sebal. Bukannya dianggap ramah atau aktif (seperti murid di kelas yang banyak bertanya pasti disukai guru), kamu malah bisa-bisa dikira gila.

Singkatnya, malu bertanya sesat di jalan. Banyak tanya, dikira gila!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berteduh sambil Nostalgia Sejenak di Toko Oen Malang

Tanggal 4 Maret 2016 kemarin saya dan Mas Fuad berkeliling di Alun-alun Kota Malang untuk mencari bahan artikel di trevelsia.com. Kami akhirnya bertemu sekitar jam 10 setelah ngaret satu jam dari perjanjian awal. Biar cepat selesai, kami pun membagi wilayah peburuan menjadi dua bagian. Saya hunting foto dan bahan di bagian Selatan taman sedangkan Mas Fuad di bagian Utara. Setelah bahan yang terkumpul sudah dirasa cukup untuk bahan artikel baru, kami berdua bertemu kembali di titik tengah taman. Cuaca yang awalnya panas tiba-tiba mendung setelah kami selesai berburu foto dari berbagai sudut. Berhubung hari itu adalah hari Jum'at, Mas Fuad terpaksa meninggalkan saya sendirian untuk Jum'atan. Kami pun berpisah pukul 11.30. Nggak lama setelah Mas Fuad berlalu, saya juga memutuskan untuk meninggalkan Alun-Alun Kota Malang menuju kawasan Tugu. Tapi tak disangka tak dinyana, hujan seketika turun dengan derasnya bahkan sebelum saya sampai di parkiran motor. Alhasil langsung be...

Sebuah Percakapan Singkat Tentang Hati

"Minggu lalu di kelasku pak dosen meminta kami untuk menggambar sesuatu yang menggambarkan kondisi hati saat ini," ujar salah satu gadis berkerudung merah jambu membuka pembicaraan dengan bersemangat sambil mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalam tasnya. Dua gadis lain menatapnya dengan seksama. "Lalu apa yang kamu gambar?" tanya gadis berkerudung biru yang duduk tepat di hadapannya. "Kotak! Kotak kosong yang tak berisi," digoreskannya pensil di permukaan kertas dan terbentuklah sebuah kotak terbuka tanpa apa-apa di dalamnya. Meski tak seimbang, cukuplah gambar itu disebut sebuah kotak. "Seperti inilah hatiku saat ini, kosong tak berisi. Kalau kamu? Coba gambarkan isi hatimu," ujarnya enteng sambil menyodorkan buku ke gadis berkerudung biru. "Hatiku sekarang seperti ini," jawabnya sambil menggambar sebuah hati yang terikat tali dan di ujungnya tersambung dengan sebuah balon. "Hatiku saat ini sedang terbang bersama balon, ...