Langsung ke konten utama

Berteduh sambil Nostalgia Sejenak di Toko Oen Malang




Tanggal 4 Maret 2016 kemarin saya dan Mas Fuad berkeliling di Alun-alun Kota Malang untuk mencari bahan artikel di trevelsia.com. Kami akhirnya bertemu sekitar jam 10 setelah ngaret satu jam dari perjanjian awal. Biar cepat selesai, kami pun membagi wilayah peburuan menjadi dua bagian. Saya hunting foto dan bahan di bagian Selatan taman sedangkan Mas Fuad di bagian Utara.

Setelah bahan yang terkumpul sudah dirasa cukup untuk bahan artikel baru, kami berdua bertemu kembali di titik tengah taman. Cuaca yang awalnya panas tiba-tiba mendung setelah kami selesai berburu foto dari berbagai sudut. Berhubung hari itu adalah hari Jum'at, Mas Fuad terpaksa meninggalkan saya sendirian untuk Jum'atan. Kami pun berpisah pukul 11.30.

Nggak lama setelah Mas Fuad berlalu, saya juga memutuskan untuk meninggalkan Alun-Alun Kota Malang menuju kawasan Tugu. Tapi tak disangka tak dinyana, hujan seketika turun dengan derasnya bahkan sebelum saya sampai di parkiran motor. Alhasil langsung berpikir keras untuk nyari tempat berteduh yang pas.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan berteduh sambil nyicipin menu es krim yang konon katanya cukup legendaris di Kota Malang. Lumayan lah berteduh sambil makan dan nyambi liputan. Karena saat itu hujan lagi deras-derasnya dan petir menyambar-nyambar (ini seriusan deh nggak bohong) pengunjung di dalam Toko Oen nggak terlalu banyak alias sepi.

Ini bukan kali pertamanya saya masuk ke toko ini karena dulu mama dan papa sempat mengajak saya kemari. Tapi walaupun bukan yang pertama, saya tetap dibikin 'nganga' saat masuk ke dalam toko. Suana klasik, kuno, tenang, penuh kenangan seketika menyeruak memberi kesan spesial plus backsound lagu Westlife jadul yang sedang diputar saat itu cukup membuat saya merasa kembali ke masa lalu. Aroma penjajahan ulang ((AROMA PENJAJAHAN)) seketika mencolek bulu hidung sejak saya menginjakkan kaki di pintu masuk toko.


Setelah memilih tempat duduk di salah satu sudut toko, pelayan langsung mengantar menunya ke arah saya. Lagi-lagi saya berhasil dibuat 'nganga' dengan harga yang tertera di dalam buku menu. Disini es krim dibanderol dengan harga Rp 39.000,- per porsi yang isinya dua scoop es krim hominahominahomina!


Setelah beberapa saat kebingungan milih es krim, akhirnya pilihan saya jatuh pada Tropicana Cream yang terdiri dari dua scoop es krim vanila dan potongan buah di bawahnya. Untungnya saya berpegang teguh pada prinsip "udah nggak apa-apa, sekali-kali aja" akhirnya rasa galau terbang begitu saja menyatu dengan alam. Saya nggak berani pesan makanan berat karena ternyata ada menu yang mengandung babi (ngeles, padahal aslinya takut kantong jebol. PRET!).

Sambil menunggu pesanan datang, saya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Desain interiornya yang benar-benar klasik bikin saya betah duduk berlama-lama disini walaupun sendiri sekali lagi ((SEN-DI-RI)). Suasana tenangnya cocok banget buat nongkrong sambil baca buku. Kehadiran beberapa mas-mas bule yang lagi asyik menyantap makan siangnya menambah beningnya pemandangan di dalam ruangan ahahay!

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya segelas Tropicana Cream pesanan saya datang! Cekrek dulu ya sebelum dihancurkan say cheeeessseee!


Setelah dicoba, rasa es krimnya memang beda dari yang lain. Lembut ringan adem cenderung gampang meleleh. Rasanya juga nggak kemanisan. Cuma sayangnya potogan buah yang ada di bawah es krim berasal dari buah kalengan, jadi kurang segar.

Saya menikmati sendok demi sendok, suapan demi suapan es krim yang ada di hadapan saya. Sepertinya saya ingin berkunjung lagi kemari untuk mencoba menu es krim lainnya sambil membaca buku dan cuci mata! Siapa tau dapet kenalan bule ganteng yakanyakanyakan??

Cukup lama saya duduk di tempat ini sambil menerka-nerka, membayangkan banyak hal, memikirkan ini dan itu hingga akhirnya hujan reda, es krim lenyap, dan mas-mas bule beranjak dari tempat duduknya. Hal ini menandakan sudah waktunya pula saya beranjak dari tempat ini sebelum saya lapar mata dan merogoh kocek lebih dalam lagi.

Setelah membayar pesanan di kasir, saya sempatkan berkeliling ke setiap sudut ruangan dan mengambil gambarnya. Setelah sukses mendapatkan beberapa foto, dengan berat hati saya melangkahkan kaki menuju pintu keluar Toko Oen. Good bye, see you next time! Doain ya dapet rejeki nomplok buat leha-leha sambil makan es krim lagi disini.

Buat kamu, kamu dan kamu yang penasaran dan tertarik untuk mampir ke Toko Oen Malang, bisa coba simak dulu ulasan singkat mengenai Toko Oen Malang di sini. Selamat mencoba!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Percakapan Singkat Tentang Hati

"Minggu lalu di kelasku pak dosen meminta kami untuk menggambar sesuatu yang menggambarkan kondisi hati saat ini," ujar salah satu gadis berkerudung merah jambu membuka pembicaraan dengan bersemangat sambil mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalam tasnya. Dua gadis lain menatapnya dengan seksama. "Lalu apa yang kamu gambar?" tanya gadis berkerudung biru yang duduk tepat di hadapannya. "Kotak! Kotak kosong yang tak berisi," digoreskannya pensil di permukaan kertas dan terbentuklah sebuah kotak terbuka tanpa apa-apa di dalamnya. Meski tak seimbang, cukuplah gambar itu disebut sebuah kotak. "Seperti inilah hatiku saat ini, kosong tak berisi. Kalau kamu? Coba gambarkan isi hatimu," ujarnya enteng sambil menyodorkan buku ke gadis berkerudung biru. "Hatiku sekarang seperti ini," jawabnya sambil menggambar sebuah hati yang terikat tali dan di ujungnya tersambung dengan sebuah balon. "Hatiku saat ini sedang terbang bersama balon, ...

Malu Bertanya, Sesat di Jalan, Banyak Tanya, Dikira Gila!

Malam itu, Minggu (10/12/2017) nyaris pukul 9, aku menumpangi bis cepat Sugeng Rahayu (kalau nggak salah ingat) dari Jogja ke Solo setelah mengakhiri perjalananku bersama Ismie, Ucup, dan Bagus seharian. Aku sempat kebingungan sesampainya di dalam bis, sebab semua bangku sudah terisi satu-satu. Tak ada yang benar-benar kosong, aku harus memilih salah satu pria untuk menjadi teman dudukku, dan itu artinya aku tak bisa menempel di jendela agar lebih leluasa melihat pemandangan. Setelah berpikir sebentar, aku akhirnya duduk di sebelah pria bertopi yang tertidur pulas. Di seberangnya, ada dua mbak-mbak berjilbab yang usianya mungkin masih sepantaran denganku. Belum juga benar-benar duduk, tiba-tiba ada seorang pria di bangku belakang (tepatnya di belakang mbak-mbak tadi) yang bertanya padaku. "Mbak, mau ke mana?" tanyanya. "Mau ke Solo," jawabku singkat. "Emang Solo mana?" tanyanya lagi. Aku sedikit curiga dengan pria ini, sebab keponya keterl...