Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang menatap dia lekat-lekat ribuan hari
lalu
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang nyaris tak berkedip ketika
menangkap sekelebat bayangan dia
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang mengendap-endap menatap dalam diam
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang malu-malu
ketika tatapan diam-diamnya tertangkap manik mata
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang diam-diam berjaga di antara celah
sempit daun pintu
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang berbinar
ketika tatapan matanya dan dia saling beradu
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang meletup-letup ketika menangkap
seutas senyum bibir dia
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang nanar saat manik mata dia bercumbu
dengan yang lain
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang berkaca-kaca ketika bayang dia tak
lagi dalam jangkau
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata yang terdiam dalam rindu,
bertanya dalam harap, mencari dalam sepi kemana bayangnya lari
Sepasang mata itu kini meredup
Cahayanya berganti temaram
Ronanya berubah kelam
Meski pagi berganti senja
Sepasang mata itu masih sama
Masih sepasang mata milik mata bola dia, milik seutas
senyum dia, milik dia yang tertunda
Late archive
Di atas ular besi yang melaju
Yogyakarta, 17 November 2013

Komentar
Posting Komentar